h1

Formula BMW: 1st Experience in Single Seater

Mei 2, 2008

Cita-cita menjadi seorang pembalap F1 pasti berada di balik benak semua pembalap muda saat ini. Para pembalap bocah yang masih bertarung di atas chassis gokart kelas kadet, para pembalap remaja yang bertarung di atas chassis Rotax Max, hingga para pembalap muda berbakat yang kini sedang bertarung di belakang kemudi Formula BMW, semuanya bisa dipastikan memiliki angan berada di balik kemudi jet darat tersebut.

Pemilihan jenjang karir membalap yang tepat bisa jadi merupakan kunci dari tercapainya cita-cita tersebut. Hampir semua pembalap F1, mengawali prestasinya dari karting. Melenggak-lenggok di atas chassis gokart, mendapatkan dasar-dasar pertarungan wheel-to-wheel untuk mengasah refleks, pengendalian mobil yang presisi serta kemampuan mengambil keputusan saat bertarung di kecepatan tinggi. Selain itu karting juga memberikan dasar kemampuan bagi sang pembalap untuk mengenal karakteristik teknis mobil balapnya seperti tekanan ban dan rasio gear transmisi.

Setelah matang di dunia karting, pembalap tentunya membutuhkan pijakan yang lebih tinggi untuk mewujudkan angannya. Salah satu pilihannya ada di ajang Formula BMW (FBMW) yang telah menjadi salah satu pilihan banyak pembalap muda untuk melangkahkan kakinya ke jenjang balap yang lebih tinggi. Sebut saja Ralf Schumacher, Christian Klien dan Nico Rosberg, mantan pembalap FBMW yang kini telah berada di kursi F1.

Karenanya, saat mendapatkan pesan singkat di ponsel berisi tawaran dari pihak PT. BMW Indonesia untuk mencoba langsung FBMW di Sirkuit Sentul, tanpa perlu berpikir lama, saya setuju untuk menjadi bagian perjalanan mimpi menjadi seorang pembalap F1.

Dalam kokpit
Pengalaman pertama di atas sebuah mobil balap single seater kelas formula tentunya menjadi sebuah pengalaman menarik bagi siapapun. Anggap saja berada di dalam kokpit sebuah F1 BMW-Sauber dalam versi mininya. Ya, karena FBMW berdimensi jauh lebih kecil dibandingkan sebuah mobil F1. Dimensi panjang/lebar/tinggi sebuah mobil FBMW berkode FB02 adalah 3.975/1.740/980 mm, sementara dimensi panjang/lebar/tinggi mobil F1 milik tim BMW-Sauber berkode F1.06 adalah 4.610/1.800/1.000 mm. Saat memasuki kokpitnya yang sempit, seperti juga memasuki kokpit F1, lingkar kemudinya harus dilepas.

Ditemani langsung oleh Mark Goddard, team principal Eurasia Motorsport, berkenalan dengan FBMW terasa begitu mudah dan menyenangkan. Mark dengan lugas memperkenalkan semua komponen yang terdapat di dalam kabin FB02 yang telah dilengkapi Formula Rescue Seat (FORS) berbahan serat aramid yang memungkinkan pembalap mendapatkan pertolongan meski tetap berada di atas kursi. Lingkar kemudi sekaligus menjadi dashboard yang berisi berbagai informasi bagi sang pembalap. Display petunjuk posisi gear, layar LCD yang berisi informasi waktu tempuh tiap lap, temperatur air, tekanan oli dan tekanan pada pedal rem serta lampu-lampu LED yang mengindikasikan posisi putaran mesin.

Mark kemudian juga memberikan petunjuk soal penggunaan transmisi sekuensial 6-speed yang pengoperasiannya nyaris serupa dengan menggunakan mobil bertransmisi manual. Pasalnya, pada FB02 ini juga terdapat pedal kopling yang digunakan saat memindahkan gear. Tak seperti pada F1 yang menggunakan pemindah transmisi paddle shift di belakang lingkar kemudi, pada FBMW pemindahan gear dilakukan via tuas transmisi di sebelah kanan pembalap. Memindahkan gear satu tingkat lebih tinggi, tuas cukup ditarik mantap ke belakang, sementara untuk menurunkan gear dengan didorong ke depan.

Setelah Mark memperkenalkan prosedur darurat saat terjadinya kondisi yang tidak diinginkan, para mekanik kemudian membantu untuk mengencangkan sabuk pengaman lima titik yang mengikat erat pembalap di kokpit FB02. Terasa sesak memang, bahkan untuk menarik nafas penuh rasanya begitu sulit. Namun Mark mengingatkan, bahwa hal itu tidak akan terasa setelah melewati satu lap. “Anda akan merasakan semua sabuk itu mengendur setelah satu lap,” ujarnya.

On the track
Setelah menyalakan tombol pengapian, kemudian tombol pompa bahan bakar, mekanik lalu menyambungkan sebuah baterai pada soket di bagian belakang FB02 agar dapat menyalakan mesin. Cukup dengan menekan tombol di bawah tombol pompa bahan bakar dan mesin 124EA meraung di belakang punggung pembalap.

Mesin 4-silinder segaris berkapasitas 1,2 liter pada FBMW berasal dari mesin motor BMW K 1200 RS yang mampu melimpahkan tenaga puncak hingga 140 hp pada 9.000 rpm dan torsi optimum 128 Nm pada 6.750 rpm. Setiap FB02 yang bertarung di seluruh seri FBMW di seluruh dunia memiliki spesifikasi mesin yang serupa.

Raungan mesin seberat 71 kg ini memang tak sedahsyat raungan mesin V8 2,4 liter yang dimiliki mobil F1. Namun dengan bobot total mobil yang hanya 455 kg (tidak termasuk pembalapnya), FB02 mampu berakselerasi dari 0 -100 kpj dalam waktu kurang dari empat detik. Apalagi dengan posisi piston horisontal, mesin 124EA sekaligus menghasilkan titik pusat gravitasi yang sangat rendah yang turut membantu soal keseimbangan mobil.

Dan memang hal itu yang dirasakan saat mulai membesut mobil ini memasuki lintasan Sirkuit Sentul. Pada putaran pertama, mobil BMW 330i yang memandu di depan masih belum mengembangkan kecepatan, fase adaptasi terhadap pengendaraan dan pengendalian FBMW masih dilakukan. Namun selepas tikungan terakhir, saatnya mengembangkan kecepatan di lintasan lurus depan tribun utama, pedal akselerator diinjak penuh dan jarak dengan BMW 330i semakin dekat menjelang tikungan R1. Layar display menunjukkan posisi gear enam dan saat lampu rem BMW 330i menyala, pedal rem FB02 juga saya injak penuh sebelum menurunkan transmisi ke gear empat dan menikung cepat di R1.

Perbedaannya dengan road car yang pernah saya coba sebelumnya di sirkuit ini adalah begitu mantapnya mobil ini saat melibas semua tikungan yang ada. Tak heran karena mobil ini memang memiliki struktur aerodinamika yang lebih sempurna dibandingkan sebuah road car. FBMW bahkan memiliki kemampuan pengaturan sayap-sayap pada badannya yang akan membantu pembalap untuk lebih cepat beradaptasi mengenal karakteristik mobil formulanya.

Struktur suspensi FBMW juga turut mendukung kaidah-kaidah aerodinamika layaknya mobil F1. Seperti juga sayap-sayapnya, peredam kejut pada FBMW dapat diatur tingkat kekerasannya. Sayap, peredam kejut dan perbandingan gear yang dapat diatur inilah yang kemudian menjadi dasar bagi para pembalap pemula untuk meningkatkan pengetahuan teknisnya saat membalap di tingkatan lebih tinggi.

Selepas dua putaran, percaya diri semakin tumbuh untuk membawa FB02 ini lebih cepat mengitari Sirkuit Sentul, kali ini saya mencoba menikmati saat mobil bergoyang ketika ban sedikit menghantam kerb, membuat kemudi bergetar namun mobil tetap menjejak kuat di aspal. Semakin lama, BMW 330i di depan rasanya semakin lambat. Saat lampu sein mobil pemandu itu menyala menunjukkan saatnya kembali ke pit.. Oh, tidak! Usai empat putaran di atas FBMW bagaikan terbangun di tengah-tengah mimpi indah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: